Rabu, 26 Januari 2011

hiburan



. Merantau
Merantau Movie


Di tengah serbuan film-film lokal bergenre horor dan komedi seks, kehadiran segelintir film bernuansa budaya maupun bertema social, ibarat angin segar. Di antara segelintir itu, salah satu yang bakal diputar ialah “Merantau”. Uniknya, sutradaranya justru bukan orang Indonesia.

“Merantau” terinspirasi dari tradisi merantau yang dilakukan para pemuda di Sumatera Barat. Film ini bercerita tentang Yuda (Iko Uwais), pesilat aliran Harimau yang handal dan sudah waktunya menjalani tradisi merantau. Ia pun meninggalkan kampung halamannya dan mengadu nasib di Jakarta.

Perjuangan di Ibu Kota ternyata penuh liku dan Yuda pun terombang-ambing dalam ketidakpastian. Hingga suatu ketika, Yuda bertemu dengan Astri (Siska Jesika). Gadis yang bekerja sebagai penari di sebuah klub malam itu ternyata menjadi incaran kelompok perdagangan manusia. Yuda pun harus menghadapi komplotan yang didalangi orang asing itu untuk menyelamatkan Astri dan adiknya, Adit (Yusuf Aulia).

Film bergenre laga ini digarap oleh sutradara asal Inggris, Gareth Huw Evans. Ide membuat “Merantau” muncul ketika Gareth membuat film dokumenter tentang seni bela diri Indonesia pencak silat. Salah satu tempat yang menjadi lokasi pembuatan film tersebut adalah Sumatra Barat. Di sinilah Gareth berkenalan dengan tradisi merantau.

Pria yang mengaku sebagai penggemar berat seni bela diri (martial art) ini pun menyampaikan idenya pada produser Ario Sagantoro. Gayung bersambut, Ario menyukai ide Gareth dan proses produksi pun disiapkan.

Tak tanggung-tanggung, Gareth pun menghubungi langsung aktor dan aktris yang menurutnya pas bermain di filmnya. Mulai dari atlit pencak silat Iko Uwais, Donny Alamsyah (berperan sebagai Yayan, kakak Yuda), hingga Christine Hakim (sebagai ibu Yuda dan Yayan). Malahan, Christine Hakim adalah aktris pertama yang dihubungi Gareth.

“Saya menjadi fansnya (Christine-red) sejak film Daun di Atas Bantal,” ungkap pria yang beristrikan warga negara Indonesia ini.

Lantas, apa yang membuat Gareth begitu ingin membuat film tentang pencak silat? “Saya penyuka martial art sejak kecil. Dan ketika saya melihat pencak silat yang memiliki begitu banyak gaya, saya tertarik. Menurut saya ini sesuatu yang harus diperlihatkan kepada orang banyak. Dan saya ingin menghadirkan tokoh pencak silat yang bisa dibanggakan,” terang Gareth yang juga melibatkan pelatih pencak silat Harimau di film ini.

Ario menambahkan, film yang memadukan action dan drama ini bermaksud menampilkan adegan pencak silat senyata mungkin. “Enggak pakai terbang-terbangan. Full body contact,” tandasnya seraya menuturkan pemerintah daerah Sumatera Barat juga mendukung “Merantau” sebagai ajang promosi pariwisata Sumatera Barat.


Film Merantau Ikut Premiere Festival Film Cannes

Salah satu festival film paling bergengsi di dunia, Cannes Film Festival, resmi dibuka kemarin. Berlangsung di Cannes, Prancis Selatan sampai 24 Mei mendatang festival tersebut mencari film-film terbaik dari seluruh belahan dunia. Sekaligus ajang promosi film-film baru. Kali ini, Indonesia patut berbangga. Salah satu film produksi dalam negeri, Merantau, berkesempatan berpromosi di festival tersebut. Meski hanya sekilas, sekitar 20 menit, itu sudah menjadi lompatan besar untuk karya anak bangsa.

Di produksi PT. Merantau Films, Merantau merupakan film action drama yang disutradarai Gareth Huw Evans. Sutradara asal Inggris itu mengatakan, ide film tersebut tercetus dari film-film dokumenter yang tengah dibuat olehnya. Saat itu, dirinya membuat film dokumenter mengenai aliran silat. Sepanjang proses pembuatan dokumenter itu, Evans berkesempatan bertemu serta bekerja bersama dengan pesilat berbakat dan para guru besar dari berbagai aliran silat. “Sangat menarik. Langsung saya buat filmnya,” terang Evans mengenai film yang mengupas tentang seni bela diri tradisional Indonesia Pencak Silat Harimau yang berasal dari Sumatra Barat.


2. Garuda di dadaku


Garuda di dadaku

Synopsis :

Bayu, yang masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar, memiliki satu mimpi dalam hidupnya: menjadi pemain sepak bola hebat. Setiap hari dengan penuh semangat, ia menggiring bola menyusuri gang-gang di sekitar rumahnya sambil mendribble bola untuk sampai ke lapangan bulu tangkis dan berlatih sendiri di sana. Heri, sahabat Bayu penggila bola, sangat yakin akan kemampuan dan bakat Bayu. Dialah motivator dan “pelatih” cerdas yang meyakinkan Bayu agar mau ikut seleksi untuk masuk Tim Nasional U-13 yang nantinya akan mewakili Indonesia berlaga di arena internasional. Namun Pak Usman, kakek Bayu, sangat menentang impian Bayu karena baginya menjadi pemain sepak bola identik dengan hidup miskin dan tidak punya masa depan.

Dibantu teman baru bernama Zahra yang misterius, Bayu dan Heri harus mencari-cari berbagai alasan agar Bayu dapat terus berlatih sepak bola. Tetapi hambatan demi hambatan terus menghadang mimpi Bayu, dan bahkan persahabatan tiga anak itu terancam putus. Terlalu mulukkah impian Bayu untuk menjadi pemain sepak bola yang hebat?

3. CINTA

CIN(T)A

Trailer : Youtube

Synopsis :

Cina (Sunny Soon), seorang mahasiswa baru yang belum pernah mengalami kegagalan dalam hidup, sehingga dia yakin bisa mewujudkan impiannya menjadi Gubernur Tapanuli hanya dengan modal iman.

Annisa (Saira Jihan), mahasiswi tingkat akhir 24 tahun yang kuliahnya terhambat karena karirnya di dunia film. Popularitas dan kecantikan membuatnya kesepian, sehingga ia bersahabat dengan jarinya sendiri yang digambari bermuka sedih. Sampai suatu hari datang ‘jari’ lain yang menemani.

Tuhan, karakter yang paling tidak bisa ditebak. Setiap orang merasa mengenal-Nya. Setiap karya seni mencoba untuk menggambarkan-Nya, tapi tidak ada yang benar-benar mampu menggambarkan-Nya.

Tuhan mencintai Cina dan Annisa, tapi Cina dan Annisa tidak dapat saling mencintai karena mereka memanggil Tuhan dengan nama yang berbeda.

tapi sayang film ini rilis perdananya bukan di Indonesia tapi malah di London.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar